Kampung Gila Di Ponorogo

December 21st, 2015

KAMPUNG GILA DI PONOROGO

PERPSEKTIF BIOLOGIS

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Psikologi Abnormal dan Klinis

Dosen Pengampu: Dr. Budi Astuti, M.Si

Disusun oleh:

1.      Atika Dewiyandari                 (14104241002)

2.      Dian Dwi Artanti                    (14104241003)

3.      Boy Haryono                          (14104241015)

4.      Anastasia Kristanti N             (14104241016)

5.      Anastasia Dwi Anggitasari    (14104241021)

6.      Nur Fatimah Widya N                        (14104244022)

BIIMBINGAN DAN KONSELING

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015

Kampung Down Syndrome di Ponorogo, Antara Mitos dan Kemiskinan “Abadi”

A.    Deskripsi

Di Indonesia, mungkin hanya di Kabupaten Ponorogo yang desa-desanya dihuni banyak warga down syndrome (keterbelakangan mental). Jumlahnya ratusan orang. Benarkah hanya karena mereka miskin? Setidaknya terdapat tiga kawasan perkampungan di Kabupaten Ponorogo, Jatim, yang banyak dihuni down syndrome. Seluruhnya berada di lereng pegunungan yang mengepung kabupaten pimpinan H Amin dan Yuni Widyaningsih itu. Berdasar hasil penelusuran Jawa Pos, total warga yang menderita down syndrome di tiga kawasan tersebut mencapai 445 orang. Jika dirinci lebih detail, yang paling banyak terdapat di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon (323 orang). Selanjutnya, di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terdapat 69 orang dan di Desa Pandak, Kecamatan Balong, terdapat 53 orang (selengkapnya baca grafis di halaman 3). Di antara tiga wilayah itu, Desa Sidoharjo memang tercatat paling banyak memiliki warga yang tumbuh tidak normal. Jumlahnya mencapai 323 orang di antara 5.690 jiwa penduduk di desa itu (sekitar 5,7 persen).

Daerah yang memiliki banyak warga down syndrome bisa dikatakan satu tipikal. Yakni, sama-sama berada di lereng gunung, tanah berkapur yang sulit ditanami, terpencil, akses transportasi sulit, tiwul (makanan olahan dari singkong) sebagai menu makan utama, miskin, hingga berpendidikan rendah. Pekerjaan mayoritas warganya juga sama: buruh tani. Lantaran berada di lereng pegunungan, mengaksesnya pun tidak mudah. Setidaknya, dibutuhkan minimal satu hingga dua jam perjalanan dari pusat Kota Ponorogo dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tiga wilayah tersebut juga memiliki ciri khas lain, yakni hanya memiliki satu akses jalan masuk, lantaran sisi-sisi jalannya tertutup oleh perbukitan dan hutan. Dukuh Sidowayah di Desa Sidoharjo misalnya. Daerah tersebut cukup sulit diakses oleh pendatang. Hanya ada satu jalan utama setelah melewati sawah-sawah dan hutan. Jalan menyempit saat memasuki desa tersebut. Umumnya, jalanan terbagi tiga tipe. Aspal, makadam, serta tanah dengan berbagai tanjakan dan turunan khas daerah pegunungan.

Untuk yang baru pertama ke sana, tidak berlebihan jika menyamakan akses masuk ke Sidowayah mirip dengan film-film horor Indonesia. Sepi, banyak pohon menjulang tinggi, penerangan rumah minim, terutama jika malam, dan jalan sempit dengan berbagai belokan yang membingungkan. Jika dibandingkan dengan akses menuju Kecamatan Balong, Sidowayah bisa dikatakan paling berat. Desa Pandak juga demikian. Jalan sempit sudah terasa saat memasuki akses menuju Pandak. Kiri kanan berupa hamparan sawah dan hutan. Di situ, jalan lebih parah karena mayoritas berupa makadam. Tidak hanya itu, jalan hanya mampu ditaklukkan oleh roda dua. Namun, semua kendaraan dipastikan lumpuh saat hujan turun karena akses jalan menuju perbukitan masih berupa tanah liat. Saking banyaknya warga yang mengalami keterbelakangan mental, warga tidak lagi mempermasalahkan mereka. ”Mereka bukan masalah bagi kami,” ujar Kades Sidoharjo Parnu. Pola interaksi yang terjadi juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia normal. Penderita keterbelakangan mental yang bisa bekerja diarahkan untuk membantu orang tua. Mereka yang tidak bisa diajari apa pun dibiarkan begitu saja berkeliaran di perkampungan. Karena tidak ada satu pun yang bertipe menyerang, warga tidak pernah merasa terganggu.

Sisi perekonomian jelas tidak bisa dibanggakan. Sebagai buruh tani, bisa jadi penghasilan mereka Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per bulan. Dengan rendahnya penghasilan ditambah lagi keluarga yang rata-rata mempunyai anak lebih dari dua, ujung-ujungnya warga tidak bisa mengonsumsi makanan bergizi secara rutin. Ironi memang. Menurut keterangan tiga Kades yang wilayahnya banyak dihuni warga down syndrome (Sidoharjo, Karangpatihan, dan Pandak), warganya hanya bisa menikmati nasi saat pembagian beras untuk keluarga miskin (raskin). Beras jatah pemerintah itu hanya bisa dikonsumsi beberapa hari. Setelah itu, kembali lagi mereka mengonsumsi tiwul. ”Biasanya tanpa lauk. Tiwul itu saja makanannya,” ucap Kades Pandak Yaimun.

Seperti yang terjadi di rumah Janem, 70. Saat Jawa Pos ke rumahnya, dia sedang menjemur singkong di halaman. Di dalam rumah, Bandi, 43, dan Jemari, 40, sedang memegang tempe berisi tiwul. Tidak ada lauk di tumpukan tiwul itu. Di dalam rumah itu juga tidak terdapat banyak perabot. Hanya dipan tanpa kasur yang digunakan untuk duduk oleh dua anaknya yang sama-sama down syndrome itu. Nah, tiwul yang mengandung gaitan dan cooksey sebagai zat goitrogenik itulah yang ditengarai menjadi pemicu munculnya kasus down syndrome. Zat yang terkandung di dalam singkong bisa merusak metabolisme yodium. Akibatnya, warga kawasan itu menderita gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).

Kisah lainnya datang dari Desa Karangpatihan. Keluarga yang anggota keluarganya banyak mengidap down syndrome adalah Giyem. Sayang, saat Jawa Pos berkunjung ke rumah Giyem, dia tidak berada di tempat. Giyem adalah anak kelima di antara 9 bersaudara. Kondisi dia normal. Tetapi, empat adiknya mengalami down syndrome. Mereka adalah Painten, 42, Boinem, 40, Danem, 38, dan Dayat, 35. Semua tinggal serumah dengan Giyem.

Si bungsu Dayat tergolong down syndrome ringan. Sebab, dia masih bisa diajak berbicara dan mau bekerja. Selama ini dia bersama Giyem yang normal menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan tiga kakaknya yang saat itu duduk di depan rumah hanya bertugas membersihkan rumah. ”Biasanya saya mencari batu dan mengurus kambing,” ucap Dayat, lantas terkekeh sendiri.

Apa yang membuat kampung-kampung itu banyak dihuni warga down syndrome? Kadinkes Ponorogo Andy Nurdiana Diah menyebut dampak GAKY tidak hanya pada pembesaran kelenjar gondok. Yang lebih penting adalah terhambatnya perkembangan tingkat kecerdasan otak pada janin dan anak. Kerusakan saraf otak bisa mengakibatkan rendahnya nilai IQ (intelligent guotient) penderita GAKY. ”Itulah yang sebenarnya terjadi di sini. Jadi, bukan disebabkan perkawinan sedarah, meski itu bisa saja terjadi,” jelasnya.

Ada versi lain terkait asal muasal kampung down syndrome itu. Ada satu cerita yang disepakati warga Karangpatihan dan Pandak. Yakni, bermula pada 1963 hingga 1967. Konon, saat itu dua desa tersebut terserang hama tikus yang menyerang selama empat tahun. Kades Karangpatihan Daud Cahyono yang saat bencana terjadi masih balita ingat betul bagaimana susahnya warga. Seluruh hasil bumi menjadi rusak dan warga gagal panen. Lokasi desa yang terpencil dan minimnya akses membuat warga tidak memiliki banyak pilihan makanan. ”Padahal, saat itu banyak ibu hamil,” kenangnya.

Lahir dari ibu yang kekurangan gizi membuat bayi-bayi Karangpatihan menjadi tumbuh tidak normal. Jumlahnya semakin banyak karena hama tersebut menyerang selama empat tahun. Warga semakin menderita karena tanah di kawasan tersebut bersifat tadah hujan. Tidak bisa setiap saat ditanami padi. ”Biasanya, setahun hanya sekali tanam,” terangnya.

Versi lainnya, kali ini berbau mitos. Konon, kawasan Sidoharjo, khususnya Dukuh Sidowayah, berdekatan dengan hutan lebat. Tidak sedikit warga yang menganggap keberadaan kampung-kampung down syndrome itu sebagai kutukan. ”Masyarakat di sini masih sangat percaya dengan mistis,” kata Indadi, kamituwo (kepala dukuh Sidowayah).

Meski demikian, tiga kepala desa yang warganya banyak mengidap keterbelakangan mental itu tidak terlalu memedulikan apa penyebab warganya seperti itu. Mereka mengharapkan adanya sebuah langkah serius dari pemerintah untuk menghentikan munculnya generasi baru seperti itu. Tidak hanya itu, seluruh perangkat desa juga dipusingkan dengan masa depan mereka. ”Sebagai Kades, kami tidak bisa berbuat banyak,” tambah Daud kembali. (dim/c6/c4/kum)

Ketika Kampung Down Syndrome Itu Jadi Ketagihan Bantuan

Mbah Katir Mengemis untuk 3 Anaknya yang Down Syndrome

Gara-gara sering diekspos media massa, kampung-kampung down syndrome di Ponorogo semakin ramai dikunjungi tamu. Ternyata, itu malah membuat warga desa di sana ketagihan meminta uang atau imbalan kepada para tamu. Dua orang itu sama-sama jongkok di serambi rumah yang berdinding gedek (anyaman bambu) dan beralas tanah. Wajah mereka khas, seperti kebanyakan orang yang mengidap down syndrome. Dua orang tersebut, Soinem dan Boimin, adalah adik kakak. Jika Soinem, 37, selalu cengar-cengir, seperti berusaha tersenyum, tidak demikian halnya dengan kakaknya, Boimin, 39, yang selalu memasang wajah garang. Ketika Jawa Pos memotret kakak beradik itu, tiba-tiba muncul seorang nenek yang sudah cukup renta dari rumah tersebut. Dia mendekati Jawa Pos sambil bertanya, “Mbeto nopo, Mas (membawa apa, Mas)?” kata perempuan bernama Katir tersebut. Nenek 79 tahun tersebut ternyata ibu kandung Soinem dan Boimin. Rupanya, dia meminta Jawa Pos memberinya sesuatu sebagai imbalan telah memotret anak-anaknya.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, Katir mengatakan sangat senang jika Jawa Pos memberinya uang. Bagi dia, uang tersebut sangat berharga untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya. Katir mengaku punya enam anak dan semuanya cacat. “Empat anak terakhir down syndrome. Anak pertama dan kedua tuli,” kata salah seorang tetangga Katir, ikut membantu memberikan penjelasan kepada Jawa Pos. Katir tidak ingat nama anak pertama dan kedua itu. “Mbok Katir sudah sering lupa. Anak pertama dan kedua pergi sudah agak lama karena menikah,” paparnya. Mulai anak ketiga, keempat, kelima, hingga keenam, semuanya down syndrome. Anak ketiga, Katir menyebutnya Kampret, meninggal dua bulan lalu di usia 45 tahun. Anak keempat, Painah, saat Jawa Pos ke sana keluar rumah. Boimin adalah anak kelima dan Soinem merupakan anak bungsu. Jadi, sehari-hari Katir tinggal bersama suaminya yang sudah sangat renta dan tiga anaknya itu, yang semuanya down syndrome. Yang membedakan Painah, 42, dengan dua saudaranya itu, dia masih bisa diajak bekerja. “Dua anak saya itu (Boimin dan Soinem, Red) bisanya hanya duduk-duduk di rumah,” ucap Katir dengan tatapan wajah sedih.

Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, tempat Katir tinggal, memang termasuk kawasan yang sangat miskin. Belakangan, dukuh itu kerap didatangi tamu yang penasaran dengan cap kampung down syndrome di kawasan tersebut. Jawa Pos berjumpa dengan beberapa orang dari luar Ponorogo yang menyatakan sengaja datang ke sana karena penasaran. Banyaknya tamu yang datang ternyata direspons dengan sikap warga yang semakin berani untuk meminta imbalan. Hal itu dibenarkan oleh Indadi, kamituwo (kepala dukuh) Sidowayah yang hari itu mendampingi Jawa Pos.

“Mereka menjadi bergantung terhadap bantuan,” terang Indadi. Bukan hanya uang yang menjadi sasaran penduduk desa. Kondisi down syndrome yang dialami beberapa warga itu juga menjadi “senjata” untuk menarik bantuan dari pemerintah. Tidak henti-hentinya bantuan dikucurkan untuk warga desa tersebut. Mulai garam beryodium, beras, bahkan ternak. Sayang, tujuan bantuan itu, yakni mengentaskan dan membuat warga desa berdikari, sepertinya, tidak akan tercapai. Para penduduk seolah telanjur terbiasa meminta barang kepada para pengunjung. Alih-alih memberdayakan diri dengan memanfaatkan bantuan, mereka lebih memilih menggantungkan diri pada “pendapatan” dari para pengunjung. “Itu yang harus diubah. Pemerintah harus memberikan bantuan yang sifatnya memancing mereka untuk berdaya,” tegas Indadi. Memang, selama ini bantuan yang diberikan tergolong instan. Warga menerima dan menikmati bantuan, lalu bantuan habis dan mereka menanti bantuan lagi. Pemberdayaan itu juga yang diharapkan oleh Kades Pandak Yaimun. “Percuma kalau hanya terus diberi makan,” ungkapnya.

Desa Karangpatihan juga mulai merasakan “nikmatnya” memiliki warga yang menderita keterbelakangan mental. Sebab, desa tersebut mendapatkan banyak bantuan dari Gubernur Jatim Soekarwo, mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen Suwarno, dan pihak lain. “Jalan desa ini sepanjang 5 kilometer diaspal karena ada orang-orang itu (down syndrome, Red),” ujar Kades Karangpatihan Daud Cahyono. Sebelumnya, jalan daerah tersebut memang masih berupa jalan makadam dan tanah. Banyaknya pejabat dan kunjungan membuat jalan itu dibangun. Daud masih ingat betul, pada 2010 Soekarwo dan Suwarno memberikan bantuan ternak. Keluarga atau warga down syndrome yang masih bisa diajak bekerja diberi beberapa ekor ternak.

Point Penting:

Penyebab biologisnya: Kekurangan yodium, kekurangan makanan yang bergizi, perkawinan sedarah (rumor), tiwul yang mengandung gaitan dan cooksey sebagai zat goitrogenik itulah yang ditengarai menjadi pemicu munculnya kasus down syndrome (dimas ginanjar).

Penyebab geografisnya: lokasi terpencil, kurang tersedianya yodium, jalan sulit di akses, terdapat kandungan metal berat di tanahnya, dikelilingi gunung kapur.

Penyebab ekonomi: ekonomi rendah, sebagian bersar menjadi petani, tidak mandiri, menggantungkan hidupnya

  1. Analisis

Kampung down sindrom, ialah salah satu contoh dari kampung yang memiliki ke anehan tingkat populasi pengidap down sindrom cukup tinggi yang di sebabkan karena kondisi geografis yang kurang memadai dan asupan yogium dan makanan yang bergizi menjadi kurang. Sehingga sebagian besar warganya memiliki kelainan. Kondisi perekonomian yang sulit karena sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh tani, sehingga makanan sehari-hari yang dapat dikonsumsi hanyalah Tiwul. gaitan dan cooksey yang terkandung dalam tiwul sebagai zat goitrogenik itulah yang ditengarai menjadi pemicu munculnya kasus down syndrome. Dilihat dari unsur tanah yang terkandung di lokasinya Bahkan, bisa dikatakan nol pesren alias tidak ada kandungan yodium sama sekali karena sangat sedikit yodium yang tersedia disana. Itu didapat dari sampel tanah dan air di wilayah tersebut. Padahal logam berat dapat menggganggu penyerapan yodium. Keadaan ini diperparah lagi karena kondisi yang dialami disebabkan oleh turunan gen dari kedua orangtua yang memiliki potensi untuk menurunkan penyakit down sindromenya. Serta adanya perkawinan sedarah yang menyebabkan terjadinya kelainan pada anak.

  1. Komentar

Kampung ini termasuk ke dalam kampung penyakit, karena penyebab adanya kampung ini adalah adanya warga yang sakit dan mengalami keterbatasan biaya untuk mengobatinya. Pemerintah dan warga negara lain yang sudah memberikan bantuan ke desa ini sudah cukup baik. Namun, hal ini membuat mereka ketergantungan dengan bantuan yang diberikan. Menurut kelompok kami, pemberian bantuan yang diberikan lebih baik bukan dalam bentuk barang atau uang, tetapi dengan bahan pangan dan mendatangkan para Medis yang siap menjadi relawan di daerah tersebut secara tulus ikhlas, dan pemerintah juga memberikan persediaan obat yang dibutuhkan oleh para pasien.

 

 

Daftar Pustaka

 

http://web.jrkijatim.com/?p=324

http://dhimasginanjar.com/kampung-idiot-di-ponorogo-antara-mitos-dan-kemiskinan-abadi/

 

This entry was posted on Monday, December 21st, 2015 at 9:29 am and is filed under Pengetahuan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply